Tempat-Tempat Bersejarah Di Madinah

Madinah atau yang dikenal juga Madinah Al-Munawwarah merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh jutaan umat muslim saat musim haji atau saat melakukan umrah. Dewasa ini kota Madinah penduduknya berjumlah sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat muslim kota ini dianggap  sebagai kota suci kedua setelah Mekkah. Sangat banyak tempat-tempat bersejarah di kota Madinah yang merupakan bagian dari sejarah Islam. Untuk mengetahui hal itu mari simak tempat-tempat bersejarah di madinah :

Masjid Nabawi

Masjid Nabawi adalah salah satu Masjid terpenting yang terdapat di Kota Madinah, Arab Saudi karena dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi tempat makam beliau dan para sahabatnya. Masjid ini merupakan salah satu Masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina.

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah SAW tiba di Madinah, tepatnya di tempat unta tunggangan Nabi SAW menghentikan perjalanannya.

Masjid Quba

Masjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Masjid Quba adalah Masjid yang dibangun atas dasar takwa. “Janganlah kamu bersembahyang dalam Masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya Masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At Taubah : 108).
Makam Rasulullah SAW
Makam (pusara) Rasulullah SAW terletak di sebelah timur Masjid Nabawi. Di tempat ini dahulu terdapat dua rumah, yaitu rumah Rasulullah SAW bersama Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah. Sejak Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 H (632 M), rumah Rasulullah SAW terbagi dua. Bagian arah kiblat (selatan) untuk makam Rasulullah SAW dan bagian utara untuk tempat tinggal Aisyah. Sejak tahun 678 H (1279 M), pada masa Dinasti Mamluk, di atasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome). Tepat di bawah Kubah Hijau jasad Rasulullah SAW dimakamkan. Di situ juga dimakamkan kedua sahabat, Abu Bakar (Khalifah Pertama) dan Umar bin Khattab (Khalifah Kedua) yang dimakamkan dibawah kubah, berdampingan dengan makam Rasulullah SAW.

Raudhah

Al Raudhah adalah ruang di bagian depan sisi kiri Masjid Nabawi Madinah, terletak di antara mimbar dan kamar Rasulullah SAW. Bagi jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia yang sedang berada di Madinah, Raudhah menjadi salah satu tempat yang paling dituju untuk bermunajat dalam rangkaian ibadah, setelah Arafah dan Multazam di Masjidil Haram. Raudhah adalah tempat yang memiliki keutamaan karena rahmat dan anugerah kebahagiaan yang turun ke tempat itu dipercaya seperti anugerah yang turun ke taman surga, karena banyaknya dzikir kepada Allah SWT yang dilakukan terus menerus ditempat itu. Raudhah juga dianggap sebagai taman surga, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah bersabda : “Diantara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surge, dan mimbarku di atas telingaku”.

Makam Baqi

Baqi adalah tanah kuburan untuk penduduk sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Jamaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi, letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Di sinilah makam Ustman bin Affan ra, para istri Nabi, putra dan putrinya, dan para sahabat dimakamkan.


Jabal Uhud


Jabal Uhud adalah sebuah tempat bersejarah di Madinah, Arab Saudi terletak 5 kilometer utara Masjid Nabawi tepatnya di antara Gunung Uhud dan Bukit Rumat. Tempat ini merupakan pemakaman bagi 70 sahabat Nabi Muhammad yang gugur pada Pertempuran Uhud, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib (Paman Nabi), Mush'ab bin 'Umair, Hanzholah bin Abi 'Amir, Amru bin al-Jamuh dan Abdullah bin Amr bin Haram. Oleh karena itu, Gunung ini mendapatkan tempat yang istimewa bagi muslim, sesuai dengan Hadits nabi: Gunung Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya
bukit yang mencintai kita dan kita mencintainya. Begitu Nabi bersabda soal Jabal Uhud, bukit kemerahan yang menjadi saksi gugurnya para syuhada di Madinah. Uhud adalah kawasan perang besar antara kaum Muslim dengan kafir Quraisy yang peristiwanya akan terus dikenang hingga akhir masa.

Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain atau Masjid dua kiblat adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena Masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Pada permulaan Islam, orang melakukan Shalat dengan kiblat kea rah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa Palestina). Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat kea rah Masjidil Haram di Mekkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah hari senin bulan rajab waktu Dzuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah shalat dengan menghadap kea rah Masjidil Aqsa. Di tengah shalat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Baqarah : 144).

Khandak (Masjid Khamsah)

Terletak di kaki bukit Sala sekitar 3 km sebelah barat laut Masjid Nabawi. Sejarah Masjid Khamsah ini berawal dari perang Ahzab. Kaum muslimin sebanyak 3000 pasukan berhadapan dengan pasukan koalisi yang terdiri dari 4000 pasukan kafir Quraisy yang bergabung dengan pasukan Yahudi dari Bani Quaraidhah dan lain-lain sebanyak 6000 orang, sehingga pasukan gabungan itu berjumlah 10.000 orang. Untuk menghadapi pasukan Ahzab ini, Salman al-Farisi (Baca Kisah Salman Al-Farisi Pencari Kebenaran Sejati) memberikan masukan yang cemerlang dengan cara membuat parit (Khandaq) sepanjang kurang lebih 2,5 km, kedalaman kurang lebih 3,5 meter dan lebar kurang lebih 4,5 meter. Kaum muslimin bertahan di belakang parit itu, sehingga pasukan lawan mendapat kesulitan untuk menyerang secara langsung.

Sumur Aris

Sumur Aris (bahasa Arab: بئر أريس Bi'r Aris) Sumur Arys, Sumur Al-Khatam, Sumur Cincin atau Sumur Nabi adalah sebuah sumur bersejarah di Madinah, Arab Saudi. Sumur ini terletak di dekat Masjid Quba di sebelah baratnya. Sumur ini ditimbun pada akhir abad ke-14 Hijriah untuk perluasan jalan. Diriwayatkan bahwa Nabi S.A.W duduk di tepi sumur ini sambil menyingkapkan betisnya dan kedua kaki beliau dijulurkan ke dalam sumur. Lalu Abu Musa Al-Asy'ari berdiri menjaganya, maka datanglah Abu Bakar dan meminta izin kepadanya. Nabi berkata kepada Abu Musa: Izinkan, dan berilah ia kabar gembira dengan surga. Abu Bakar pun duduk disebelah kanannya dan menjulurkan kedua kakinya. Kemudian datang Umar, dan Nabi pun berkata lagi: Izinkan dan berilah ia kabar gembira dengan surga. Lalu Umar duduk di sebelah kirinya dan menjulurkan kedua kakinya. Kemudian datang Utsman, kata Nabi: Izinkan dan berilah ia kabar gembira dengan surga yang disertai dengan kekacauan yang akan menimpanya. Ustman pun duduk di hadapan mereka

Sumur Ghars

Sumur Ghars (bahasa Arab: بئر غرس) adalah sebuah sumur bersejarah di Madinah, Arab Saudi. Saat ini, terletak kurang lebih 1 kilometer di sebelah timur laut Masjid Quba. Persisnya berada di bawah bangunan beratap di samping Ma'had Darul Hijrah. Nabi S.A.W pernah minum airnya, dan berwasiat agar setelah wafatnya, jasadnya dimandikan dengan air sumur ini.

Sumur Ha'

Sumur Ha (bahasa Arab: بئر حاء Bi`ru Ha`) adalah sebuah sumur yang berada di sebelah utara Masjid Nabawi di dalam kebun Abu Thalhah al-Anshari, dan belum lama ini bekasnya masih ada. Hanya saja pada 1994 sumur ini masuk ke dalam proyek perluasan Saudi Kedua. Persisnya sekarang berada pada beberapa meter sebelah kiri pintu masuk Bab Malik Fahd Nomor 21
Dari Anas diriwayatkan: Abu Thalhah adalah salah seorang dari Anshar di Madinah yang paling banyak kebunnya, dan harta kebun yang paling banyak kebunnya, dan harta kebun yang paling dicintainnya ialah Bi`r Ha` (Sumur Ha`), yaitu yang berada di kiblat Masjid, dimana Rasulullah S.A.W masuk ke dalam kebun dan minum dari airnya. Dan ketika turun ayat:
Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.[2]
Abu Thalhah bangkit dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman: Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai, dan bahwasanya hartaku yang paling aku cintai adalah Bi`r Ha`, aku sedekahkan untuk Allah dengan mengharap kebajikan darinya serta sebagai simpanan bagiku disisi-Nya, maka putuskanlah wahai Rasulullah sebagaimana Allah memperlihatkannya kepadamu. Lalu Rasulullah pun menjawab: Bagus, itulah harta yang menguntungkan, itulah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan tadi, dan menurutku engkau jadikan sumur itu untuk orang-orang terdekat. Dan Abu Thalhah pun segera menimpali: Akan aku lakukan wahai Rasulullah

Gunung Ar-Rayah

Gunung Ar-Rayah (bahasa Arab: جبل الراية) atau Gunung Dzubab adalah salah satu gunung yang terletak di Madinah, Arab Saudi. Gunung ini terletak 1400 meter barat laut Masjid Nabawi, di awal Jalan Utsman bin Affan (Jalan al-'Uyun) di sisi kiri. Rasulullah S.A.W membuat kemah di atasnya ketika mengawasi penggalian parit di Khandaq. Mukjizat Nabi S.A.W pernah terjadi di sebelah utara gunung ini, yaitu mukjizat memecahkan batu ketika penggalian parit di Khandaq. Ketika Nabi memukul batu dengan cangkul, maka keluarlah darinya kilatan cahaya yang menerangi hingga kedua labah (batas barat dan timur) Madinah. Kemudian Jibril memberitakan kabar gembira bahwa umatnya kelak akan dapat mengalahkan kekaisaran Kisra, Roma dan Sun'a'. Demikianlah, kaum muslimin pun percaya dan meyakininya, sedangkan orang-orang munafik mengingkarinnya. Maka turun ayat Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.[1] juga ayat Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendak

Wadi Buthhan

Wadi Buthhan (bahasa Arab: وادي بطحان) adalah sebuah wadi di Madinah, Arab Saudi. Wadi Buthhan merupakan salah satu lembah utama di Madinah, yang bermula dari timur Quba menelusuri perkampungan Madinah dekat Mushalla hingga di barat Gunung Sala' dekat Masjid Al-Fath, kemudian terus hingga bertemu dengan Wadi al-'Aqiq di Ghabah yang menjadi pertemuan muara sungai-sungai. Buthhan memiliki tiga nama; di awal lembah dinamakan dengan Ummu 'Asyr, di tengah dinamakan Qurban, dan yang melewati Madinah disebut Abu Jiddah. Dari Aisyah, sebuah riwayat marfu' dikatakan: Buthhan berada di atas sungai-sungai dari surga (Hadis Hasan). (Shahih al-Jami ash-Shaghir 7/3)[1]
Nabi S.A.W pernah berwudlu dari air Buthhan saat Pertempuran Khandaq sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Umar, bahwasanya: kami berhenti bersama Nabi di Buthhan, kemudian beliau wudlu dan kami pun wudlu, lalu salat ashar setelah terbenamnya matahari kemudian setelah itu salat maghrib.[1]
Pemerintah Arab Saudi membangun pagar besar di Buthhan yang terdiri dari tiga bagian pagar yang menyambung yang didirikan di tempat pagar lama. Penduduk Madinah menempatinya dari waktu ke waktu sejak masa Amaliqah, sebagaimana pemerintah Saudi menjadikan aliran sungainya di Madinah berada di bawah tanah.

Saqifah Bani Sa'idah

Saqifah Bani Sa'idah (bahasa Arab: سقيفة بني ساعدة) atau as-Saqifah (bahasa Arab: السقيفة) adalah sebuah bangunan beratap yang digunakan oleh kabilah Bani Sa'idah, suku Khazraj, salah satu kabilah yang berasal dari Madinah, Hijaz, barat daya Jazirah Arab. Tempat ini merupakan tempat Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah 
Saqifah Bani Sa'idah terletak di barat daya Masjid Nabawi, diantara pemukiman dan perkebunan milik kabilah Bani Sa'idah. Pada awalnya bentuk saqifah sangat besar, dikarenakan saqifah berfungsi sebagai tempat berkumpulnya kaum Anshar. Didepan saqifah terdapat halaman yang luas dan lebar dan didekatnya terdapat sumur milik Bani Sa'idah. Saat ini, saqifah menjadi sebuah taman yang berada di sebelah barat dinding Masjid Nabawi.


 





TEMPAT-TEMPAT YANG BERSEJARAH DI KOTA MEKKAH

Assalamu Alaikum wr wb. Pada tahun 571 tepatnya di kota Mekkah, Nabi Muhammad SAW keturunan langsung dari Nabi Ismail AS serta Quraisy lahir di kota ini dan tumbuh dewasa. Pertama kali beliau menerima wahyu dari Allah SWT, namun ajarannya ditolak oleh kaumnya sendiri yang saat itu masih berada dalam kegelapan pemikiran (Jahilliyah) sehingga berpindah ke kota Madinah. Setelah Madinah berkembang akhirnya Nabi Muhammad kembali  ke kota Mekkah tanpa perlawanan dan pertumpahan darah dari lawannya. Peristiwa tersebut dikenal dengan Fathul Mekkah.

Kota Mekkah juga merupakan tempat atau pusat ibadah haji bagi kaum Muslimin yang ingin menunaikan rukun Islam yang kelima. Ada beberapa tempat di Mekkah yang menjadi tempat bersejarah lahirnya agama Islam. Untuk mengetahui hal tersebut, Berikut Tempat-Tempat Bersejarah Di Mekkah :



Masjidil Haram

Masjidil Haram, kadangkala disebut juga dengan Masjid al-Haram ataupun Al-Masjid al-Ḥarām (Arab : المسجد الحرام), merupakan masjid yang terletak di Kota Makkah Al Mukharamah, yang dibangun mengelilingi Ka'bah, yang menjadi arah kiblat umat Islam dalam mengerjakan ibadah salat. Selain itu di masjid inilah salah satu rukun ibadah haji yang wajib dilakukan umat Islam yaitu tawaf, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali.
Sebagai kota suci umat Islam, berdasarkan hukum yang berlaku di Arab Saudi, bagi Non-Muslim tidak diijinkan memasuki kota Mekkah ini

Ka'bah

Ka'bah (Arab: الكعبة) merupakan sebuah bangunan yang mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Kota Mekkah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi umat Islam. Dan bangunan ini yang menjadi patokan arah kiblat untuk ibadah salat, bagi umat Islam di seluruh dunia.

Air Zamzam

Zamzam (Arab: زمزم) merupakan nama air yang diperoleh dari sebuah sumur mata air bawah tanah yang terletak dalam kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Ka'bah, dengan kedalaman sekitar 42 meter. Air zamzam ini merupakan sumber air bersih utama bagi kota Mekkah. Selain dikonsumsi untuk air minum, air ini juga digunakan sebagai air wuduk bagi jamaah yang akan melakukan ibadah salat di Masjidil Haram.

Kota-kota miqot dalam Ibadah Haji

Selain Mekkah, kota atau daerah yang digunakan dalam peribadatan haji yakni Mina, Muzdalifah dan Arafah, kemudian terdapa kota atau daerah yang digunakan para jemaah haji untuk memulai prosesinya antara lain Bir Ali atau Dzulkulaifah yang berada di luar kota Madinah sebagai patokan jamaah yang berasal dari Madinah, serta Qarnul Manazil atau Yalamlam bagi jemaah haji yang masuk dari arah Yaman. 

 

Jabal Nur dan Gua Hira

Gua Hira adalah sebuah gua kecil yang terletak tak jauh dari puncak Jabal Nur. Letaknya sekitar 6 Km sebelah utara Masjidil Haram. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama. Untuk menuju ke sana, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam. Mulai dari kaki gunung.

Jabal Tsur

Sebelum Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ra berangkat untuk hijrah ke Madinah, pada malam harinya beliau tidur di rumah pamannya (Abu Thalib) dengan ditemani saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib. Rumah Abu Thalib sebenarnya telah dikepung oleh orang-orang kafir Mekkah. Mereka berencana akan menangkap bahkan ingin membunuh Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi berkat pertolongan dari Allah SWT, para pengepung tersebut tertidur kemudian Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah tersebut menuju suatu tempat di mana Abu Bakar ra telah menunggunya.

Setelah bertemu dengan Abu Bakar ra, Nabi Muhammad SAW berjalan ke arah berlawanan menuju Madinah, yaitu ke Jabal Tsur yang letaknya berada di selatan Mekkah (arah Negara Yaman), sedangkan Madinah berada di Utara Mekkah, untuk menghindari dari kejaran orang kafir Mekkah. Ketika Nabi Muhammad SAW berdua dengan Abu Bakar ra telah berada di dalam Gua Tsur, Allah SWT memberi pertolongan dengan mengutus para Malaikat yang membuat sarang laba-laba yang menutupi mulut gua tersebut dan meletakkan sarang burung merpati yang sedang mengerami telurnya, sehingga orang kafir (Mekkah) yang sudah tiba di mulut gua yakin bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad SAW bersembunyi di situ. Akhirnya merekapun pulang dengan tangan hampa dan Nabi pun selamat.

Jabal Tsur, letaknya sekitar 6 km di sebelah selatan Masjidil Haram, di sana terdapat gua Tsur, tingginya sekitar 1,25 meter dengan panjang maupun lebarnya kurang lebih 3,5 meter x 3,5 meter. Gua tersebut memiliki dua pintu, yaitu di sebelah barat dan satu pintu, yaitu di sebelah timur. Di pintu sebelah baratlah yang digunakan Nabi untuk masuk yang tingginya 1 meter, sedangkan pintu sebelah timur walaupun lebih luas, sengaja dibuat untuk memudahkan orang keluar masuk gua. Untuk mendaki sampai ke puncak Jabal Tsur ini diperlukan waktu sekitar satu setengah jam.


Jabal Rahmah

Jabal Rahmah yang berarti bukit penuh rahmat, selalu dipenuhi peziarah karena mempunyai sejarah penting dalam Islam. Dikisahkan, dibukit inilah Nabi Adam AS dan Istrinya Hawa bertemu setelah 100 tahun diturunkan dari langit ke bumi. Konon, di tempat ini merupakan tempat terbaik untuk berdoa meminta jodoh.

Masjid Jin

Di kampung Ma’la, tak jauh dari lokasi pemakaman Sitti Khadijah di Mekkah, masjid itu berdiri. Yang merupakan saksi bisu dialog antara Rasulullah SAW dengan para jin itu hingga kini masih berdiri tegak di tempatnya. Masjid dengan luas 10 x 20 meter itu memiliki dua lantai dan satu basement. Di atap masjid bagian kubah dihias dengan tulisan kaligrafi Al-Quran surat Al-Jin ayat 1-9. Tapi perlu diketahui, masjid ini tak seseram namanya.

Sejumlah riwayat menyebutkan, masjid yang berjarak sekitar 1 km dari Masjidil Haram tersebut dinamakan Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’at, karena di tempat itulah para jin menyatakan keislamannya dan berjanji setia kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT. Diriwayatkan, pada suatu ketika usai shalat Subuh Rasulullah SAW dan sahabat Anas bin Malik membaca Surat Ar-Rahman ayat 1-7. Di antaranya berbunyi, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?”. lantunan ayat suci Al-Quran itu rupanya menarik perhatian rombongan Jin yang sedang dalam perjalanan ke Tihamah. Para Jin tersebut lantas mendatangi tempat asal suara dan menemukan Rasulullah SAW bersama sahabatnya disana tengah membaca Al-Quran.

Para jin yang dalam salah satu riwayat disebutkan berjumlah tujuh, kemudian langsung menjawab dengan kalimat, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikitpun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan bathin kepada kami”. Setelah itu para jin lantas berdialog dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka lantas menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT”. Sesepuh jin hanya berkomunikasi dengan Nabi sedangkan Anas tidak bisa melihat wujud jin, tetapi hanya bisa merasakan bahwa ada makhluk lain di tempat itu.

Penegasan keimanan para jin dalam riwayat di atas dijelaskan Allah SWT dalam Firman-Nya di Al-Quran Surat Jin ayat 1-2 : “Telah diwahyukan kepadamu bahwa sekumpulan Jin mendengarkan ayat Al-Quran. Lalu mereka berkata : “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, karena itu kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapapun juga” (QS. Al-Jin : 1-2).

Imam dan Khatib Masjidil Haram Abdurrahman as-Sudais

Imam dan Khatib Masjidil Haram Abdurrahman as-Sudais


Abdurrahman as-Sudais
Sudais.jpg
as-Sudais di saat sesi ke sembilan Penghargaan al-Qur'an Internasional Dubai
Nama Abdurrahman
Nasab bin Abdul Aziz bin Muhammad
Nisbah as-Sudais
Lahir 10 Februari 1960
Riyadh  Arab Saudi
Kebangsaan  Arab Saudi
Etnis Arab
Jabatan Imam Masjidil Haram
Qari'
Pengajar di Universitas Umm Al-Qura
Ketua Umum Pengurus Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Firkah Sunni
Minat utama Qira'at al-Qur'an, Ushul Fiqh
Alma mater Universitas Umm Al-Qura
Penghargaan Penghargaan al-Qur'an Internasional Dubai

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz bin Muhammad as-Sudais (bahasa Arab: الشيخ عبد الرحمن بن عبد العزيز بن عبد الله بن محمد السديس) atau lebih dikenal dengan Abdurrahman as-Sudais (Lahir di Riyadh, Arab Saudi pada 10 Februari 1960)[1] adalah Imam dan Khatib Masjidil Haram yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Tempat lahirnya lebih tepat di kota al-Bukairiyah, yang saat ini berada di Provinsi Qasim.[2] Ia menjadi Imam dan Khatib Masjidil Haram sejak tahun 1404 H, pertama kali menjadi Imam salat ashar pada tanggal 22 Sya'ban 1404 H dan pertama kali menyampaikan khutbah pada tanggal 15 Ramadhan 1404 H
Ia menghabiskan masa kecilnya di Riyadh, kemudian ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar al-Mutsanna bin Haritsah, kemudian ia masuk ke Ma'had 'Ilmi (Sekolah Menengah Kejuruan) Riyadh, ia telah menghafal al-Qur'an pada usia 12 tahun,[1] dan menghafal al-Qur'an dari banyak guru di Riyadh atas bimbingan Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Alu Faryan, kedua orang tuanya berterima kasih kepada guru-guru yang telah mengajarkan as-Sudais. Ia juga belajar dari Syaikh al-Muqri Muhammad Abdul Majid Dzakir dan Syaikh Muhammad Ali Hasan. Dan lulus dari sekolah tersebut dengan membaca al-Qur'an menggunakan qira'at Hafs dari Ashim pada tahun 1979/1399 H dengan predikat sangat baik,[1] kemudian ia melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Pada tahun 1408 H ia menyelesaikan studi magisternya dengan predikat Cum Laude dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Fakultas Syari'ah Jurusan Ushul Fiqih. Kemudian ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Umm Al-Qura dengan predikat Cum Laude, kemudian disertasinya yang berjudul Studi dan Penelitian Kitab al-Wadhih fi Ushulul Fiqh karya Abu al-Wafa bin 'Aqil al-Hanbali dicetak pada tahun 1416 H. Dalam menulis disertasinya ia dibimbing oleh Prof. Ahmad Fahmi Abu Sanah, dan sidang disertasinya dipimpin oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, Sekretaris Jenderal Rabithah al-'Alam al-Islami dan Dr. Ali bin Abbas al-Hakami, Direktur Pascasarjana Fakultas Syari'ah Universitas Umm Al-Qura. Ia mendapatkan gelar Profesor bidang Ushul Fiqih atas penelitiannya dengan judul Permasalahan-permasalahan Ushul Fiqih yang terkait dengan dalil-dalil syar'i yang dipertentangkan Ibnu Qudamah al-'Azali.

Imam Besar Masjid Nabawi Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi

Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi
Gelar Asy-Syaikh
Nama Ali
Nasab bin Abdurrahman bin Ali bin Ahmad
Nisbah al-Hudzaifi
Lahir 1 Rajab 1366 H/22 Mei 1947
Qarn Auja, al-'Uraidhah Utara, selatan Mekkah,  Arab Saudi
Kebangsaan  Arab Saudi
Etnis Arab
Jabatan Mantan Imam Masjidil Haram
Imam Masjid Nabawi
Pengajar di Universitas Islam Madinah
Firkah Sunni
Minat utama Qira'at al-Qur'an, Fikih
Alma mater Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud
Universitas Al-Azhar


Asy-Syaikh Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Ahmad al-Hudzaifi (bahasa Arab: الشيخ علي بن عبد الرحمن بن علي بن أحمد الحذيفي) (lahir di Qarn Auja, al-'Uraidhah Utara, selatan Mekkah pada 1 Rajab 1366 H/22 Mei 1947) adalah Qari' Arab Saudi dan Imam Masjid Nabawi, nasabnya kembali ke keluarga Alu Hudzaifah.
Syaikh Ali al-Hudzaifi hidup di keluarga yang religus, ayahnya adalah seorang imam dan khatib bagi tentara Arab Saudi. Pertama kali ia belajar dengan guru-guru yang berada di kampungnya, kemudian ia mengkhatamkan bacaan al-Qur'an dibawah asuhan Syaikh Ali bin Ibrahim al-Hudzaifi, dan menghafalkan beberapa juz, sebagaimana ia menghafal dan mempelajari mutun-mutun dalam berbagai ilmu syari'ah.
  • Pada tahun 1381 H, ia masuk Madrasah Swasta as-Salafiyah, di daerah Baljarsy, dan lulus setingkat dengan SMP.
  • Pada tahun 1383 H, ia masuk Ma'had 'Ilmi di Baljarsy kemudian ia lulus pada tahun 1388 H, menyelesaikan studi tingkat SMA.
  • Pada tahun 1388 H, ia masuk Fakultas Syari'ah, Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh dan lulus pada tahun 1392 H
  • Setelah ia lulus, ia menjadi pengajar di Ma'had 'Ilmi di Baljarsyi, adapun pelajaran yang ia ajarkan adalah tafsir, tajwid, nahwu, sharaf dan khat, ia juga menjadi Imam di Masjid Baljarsy
  • Pada tahun 1395 H, ia menyelesaikan studi magisternya di Universitas Al-Azhar
  • Ia menyelesaikan studi doktoral di Universitas Al-Azhar, Jurusan Fikih Program Studi Siyasah Syar'iyyah, dengan judul disertasi Metode hukum yang berbeda dalam syari'at Islam, Studi Perbandingan antar mazhab-mazhab islam
Mulai mengajar di Universitas Islam Madinah sejak tahun 1397 H, ia mengajar mata kuliah tauhid dan fikih di Fakultas Syari'ah, ia juga mengajar di Fakultas Hadis dan Fakultas Dakwah & Ushuluddin. Ia mengajar perbandingan mazhab di kelas pascasarjana, dan mengajar qira'at di Fakultas al-Qur'an, Jurusan Qira'at. Syaikh Ali al-Hudzaifi merupakan salah satu qari' terbaik di Arab Saudi dan Dunia Islam, ia rekaman al-Qur'annya digunakan diberbagai radio didalam dan diluar Arab Saudi. Ia mendapatkan sanad qira'at dari beberapa qari' besar, mereka adalah:
  • Syaikh Ahmad Abdul Aziz az-Zayyat (yang memberikan sanad dalam qira'at sepuluh)
  • Syaikh Amir as-Sayyid Utsman (sanad dalam riwayat hafs dan qira'at tujuh namun ia belum menyelesaikan surat al-Baqarah karena Syaikh Amir wafat)
  • Syaikh Abdul Fattah al-Qadhi (sanad dalam riwayat hafs)
  • Syaikh Hammad al-Anshar (memberikan sanad hadis)
  • Pengajar di Universitas Islam Madinah
  • Imam dan Khatib di Masjid Quba
  • Imam dan Khatib Masjidil Haram selama 6 tahun, 1399-1401 H
  • Imam dan Khatib Masjid Nabawi, sejak tahun 1402 H
  • Ketua Komite Ilmiah untuk peninjauan Mushaf Madinah
  • Anggota Komite Pembina Perekaman Video al-Qur'an Komplek Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd
  • Anggota Badan Tinggi Komplek Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd
  • Imam di Masjid Quba' sejak tahun 1398 H
  • Imam di Masjid Nabawi sejak 6 Jumadil akhir 1399 H hingga Sya'ban 1401 H
  • Imam di Masjidil Haram sejak 1 Syawal 1401 H, hanya menjadi imam salat 5 waktu hingga sebelum Ramadhan 1402 kemudian kembali ke Masjid Nabawi sebagai Imam dan Khatib.
  • Imam salat tarawih di Masjidil Haram pada tahun 1405, 1406, 1408, 1409, 1410, 1411 dan 1412 H
  • Tidak menjadi imam salat tarawih pada tahun 1419, 1420 dan 1433 H